Desa Samar Kilang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, merupakan wilayah terpencil dengan akses jalan yang terbatas dan hampir tidak tersentuh pembangunan. Desa ini terletak di zona penyangga Taman Nasional Gunung Leuser. Sementara itu, Takengon, sebuah kota di Kabupaten Aceh Tengah yang berada di dataran tinggi Sumatra bagian barat, terletak di tepi Danau Laut Tawar, di sebelah utara Kawasan Ekosistem Leuser.
Kawasan Ekosistem Leuser dikenal sebagai salah satu ekosistem tertua dan paling kaya akan keanekaragaman hayati yang tercatat dalam ilmu pengetahuan. Kawasan ini juga merupakan tempat terakhir di Bumi yang masih menjadi habitat alami bagi orang utan, gajah, harimau, badak, dan beruang madu Sumatra. Terletak terutama di Provinsi Aceh, di ujung utara Pulau Sumatra, kawasan Leuser diakui secara luas sebagai pusat keanekaragaman hayati kelas dunia dan menjadi salah satu hutan hujan tropis utuh terpenting yang masih tersisa di Asia Tenggara.
Namun, Ekosistem Leuser berada di titik yang genting. Meskipun secara hukum dilindungi oleh Pemerintah Indonesia, pengembangan industri untuk perkebunan sawit, hutan tanaman industri untuk pulp dan kertas, dan kegiatan pertambangan terus mengancam kelestarian kawasan ini, termasuk kesejahteraan jutaan masyarakat Aceh yang bergantung pada kawasan Leuser untuk pangan, air, dan mata pencaharian.
Selama beberapa tahun terakhir, Katahati Institute telah melaksanakan berbagai program untuk mendukung pengembangan dan peningkatan kapasitas masyarakat di kawasan ini. Berdasarkan pengalamannya di lapangan, Katahati Institute menemukan bahwa perempuan di masyarakat kawasan ini masih memiliki keterbatasan ruang dalam diskusi terkait pengelolaan hutan akibat struktur tata kelola tradisional, meskipun para merekalah yang terdampak secara tidak proporsional. Melalui kegiatannya, Katahati Institute berupaya meningkatkan partisipasi perempuan di berbagai ruang demokratis di kawasan ini, serta bekerja bersama masyarakat untuk menegaskan pentingnya sudut pandang perempuan dalam pembahasan mengenai pengelolaan hutan.
Melalui proyek ini, Katahati Institute memfasilitasi dan mendampingi masyarakat di Samar Kilang dan Takengon dalam mengembangkan mata pencaharian berkelanjutan yang melibatkan masukan dan partisipasi aktif perempuan. Mata pencaharian ini difokuskan pada hasil hutan bukan kayu (HHBK), seperti gula aren, serat nanas, dan jernang (atau Dragon’s Blood, resin merah bernilai ekonomi tinggi). Proyek ini dilakukan melalui koordinasi dengan Koperasi Perempuan Gayo Sejahtera. Sementara itu, kegiatan proyek mencakup kunjungan ke rumah produksi HHBK, lokakarya bagi masyarakat dan jurnalis, dan pertunjukan seni yang mendorong dan mengajarkan praktik terbaik pengelolaan HHBK dan pentingnya menjaga Kawasan Ekosistem Leuser, baik sebagai habitat penting bagi satwa liar maupun sebagai sumber pangan, air, dan mata pencaharian bagi masyarakat Samar Kilang dan Takengon.
Dukungan pendanaan untuk proyek ini diperoleh melalui kemitraan antara RAN dan Global Greengrants Fund.